ANAK SOPO
Menuk berdiri di depan cermin kamar pengantin. Kebaya dan jarit yang membalut tubuhnya begitu indah, tetapi ada sesuatu yang menggerogoti hatinya.
Dua minggu
sebelumnya, ia melakukan kesalahan yang tak pernah ia bayangkan. Ia bertemu
kembali dengan Tumijo, mantan kekasih yang pernah dicintainya selama lima
tahun. Pertemuan yang seharusnya hanya menjadi obrolan perpisahan, berubah
menjadi malam penuh gairah.
“Seminggu
neh aku arep dirabi Kang Paidi, Mas,” (Seminggu lagi aku akan menikah dengan
Kang Paidi, Mas) ucap Menuk lalu memeluk tubuh Tumijo. Keduanya masih berbaring
di tempat tidur dengan jarit menutupi tubuh keduanya yang basah oleh keringat
akibat dibakar gairah.
“Ora
opo-opo, Dik. Paling ora aku bangga ... wes iso memiliki ati lan rogomu bengi
iki.” (Tidak apa-apa, Dik. Paling tidak aku bangga ... sudah bisa memiliki hati
dan tubuhmu malam ini). Tumijo lantas mengecup kening Menuk.
Cup!
****
Menuk kini
sah menjadi istri Paidi, lelaki yang selama ini menjadi pilihan keluarganya,
sekaligus orang yang benar-benar mencintainya. Namun, rasa bersalah di hati
Menuk tidak pernah pergi.
Hingga suatu
malam, tepat tiga bulan setelah pernikahan, Menuk tak sanggup lagi menyimpan
rahasia itu. "Kang, sepurone, yo," (Kang aku minta maaf, ya) katanya
sambil menangis.
Paidi melepas
peci, menggantung sajadah lalu menatap istrinya dengan bingung. "Lapo
meneh to, Dik?" (Memangnya ada apa, Dik?)
Menuk lantas
menceritakan semuanya. Tentang pertemuan terakhir dengan Tumijo, tentang malam
terlarang yang seharusnya tidak pernah terjadi. “Aku khilaf, Kang. Khilaf.”
Seketika kamar
menjadi sunyi. Terdengar Paidi mengembuskan napas berat setelah mendengar
pengakuan istrinya. “Awakku wes roh, Dik,” (Aku sudah tahu, Dik) kata Paidi
tenang.
“Awakmu
kambek Tumijo ndisek pacaran. Dewe rabi mergo wong tuo, Dik,” (Kamu dan Tumijo pernah
pacaran. Kita menikah karena orang tua, Dik) imbuh Paidi.
“Sepurone,
Kang,” (Maafkan aku, Kang) balas Menuk.
Paidi
kembali mengembuskan napas berat. “Ah!”
“Seng uwes,
yo uwes, Dik. Awakku gur pingin mbukak lembaran baru. Wes ojo dieling-iling
perkoro seng kapungkur.” (Yang sudah, ya sudah, Dik. Aku hanya ingin membuka
lembaran baru. Sudah jangan diingat-ingat masa lalu).
“Awakmu
memang salah, tapi wes wani muni jujur.” (Kamu memang salah, tetapi sudah
berani berkata jujur).
Air mata Menuk
mengalir semakin deras, ia merasa mendapat kesempatan kedua. Betapa mulia hati
suaminya, meski dia tahu mungkin hati suaminya hancur atas pengakuannya.
“Kang. Hu hu
hu.”
Paidi
memeluk lalu mengelus-elus perut istrinya.
****
6 bulan
kemudian.
Lewat
bantuan Mbok Kinem, dukun beranak dari desa sebelah, Menuk melahirkan seorang
bayi laki-laki yang sehat. Paidi terlihat begitu bahagia.
Sore itu Paidi
menggendong bayinya dengan penuh kebanggaan.
"Jeneng
opo seng apik yo, Dik?" (Nama apa yang bagus ya, Dik?).
“Terserah
Sampean, Kang,” jawab Menuk.
“Nek
Kuswanoto?” (Kalau Kuswanoto?)
“Ojolah,
Kang.” (Jangan, Kang).
“La po’o, Dik?”
(Memangnya kenapa, Dik?).
“Lah pokoke
ojo iku!” (Pokoknya jangan nama itu!) balas Menuk
“Apik lo
iku, Dik.” (Bagus loh nama itu, Dik).
“Moh! Pokoke
ojo dijenengi Kuswanoto!” (Tidak! Pokoknya jangan dinamai Kuswanoto!).
“Timbul ae
piye?” (Kalau namanya Timbul bagaimana?) tanya Paidi lagi.
Menuk tidak
menjawab, keduanya saling tatap ... Paidi menunggu persetujuan, tapi ....
Keduanya
malah tertawa.
Ah, hidup
mereka terlihat sungguh bahagia.
Tiba-tiba
terdengar suara ketukan pintu.
Tok! Tok!
Tok.
“Sopo,
Kang?” (Siapa, Kang?).
Paidi
menggeleng. “Tak bukak sek lawange,” (Akan kubuka pintunya) jawab Paidi lalu
melangkah sambil mengendong bayinya.
Tok! Tok!
Tok.
“Kunonuwun!”
(Permisi!)
“Monggo!” (Silakan!)
jawab Paidi lalu membuka pintu.
Di ambang
pintu, wajah Paidi langsung mengeras begitu tahu siapa yang datang ... Tumijo.
“Ono perlu
opo awakmu mrene, ha?!” (Ada perlu apa lagi kamu ke sini, ha?!) tanya Paidi
dengan raut wajah tidak suka.
“Aku arep
ketemu Menuk,” (Aku mau bertemu dengan Menuk) balas Tumijo.
“Kate lapo!”(Mau
apa!).
“Urusanku
karo Menuk urung rampung! Endi Menuk!” (Urusanku dengan Menuk belum selesai!
Mana Menuk!) balas Tumijo.
Menuk yang mendengar
namanya disebut-sebut oleh Tumijo lantas beranjak perlahan. Dia melangkah
keluar kamar.
Akan tetapi,
Tumijo sudah menerobos masuk tanpa basa-basi lagi.
“Mas
Tumijo!” ucap Menuk saat melihat Tumijo kini ada di depannya.
“Yo, iki
aku,” (Ya, ini aku) balas Tumijo.
“He, Tumijo!
Niatmu mrene kate lapo, ha!” (He, Tumijo! Niatmu datang ke sini mau apa, ha!) kata
Paidi.
“Seng mbok
gendong iku anakku!” jawab Tumijo
"Maksudmu
ki opo, ha! Perkoro awakmu tau ndemeni bojoku duk urusanku, tapi masalah bayek
iki ... iki anakku!"(Maksudmu ini apa, ha! Perkara kamu pernah suka dengan
istriku bukan urusanku, tetapi masalah bayi ini ... ini anakku!) tegas Paidi menyakinkan kalau itu adalah darah
dagingnya.
“Ora iso!
Iku anakku!” (Tidak bisa! Itu anakku!) tampik Tumijo.
“Awaku ki
sah bojone Menuk! Jelas iki anakku, Diancok!” (Aku ini suami sahnya Menuk!
Jelas ini anakku, Sialan!) geram Paidi yang tak mau kebahagiaannya kembali
diusik oleh mantan istrinya itu.
“Iku anakku!
Iku darah dagingku!” (Itu anakku! Itu darah dagingku!) aku Tumijo.
“Gak iso!
Iki anakku!” (Tidak bisa! Ini anakku!) bantah Paidi.
Menuk tak
bisa lagi berucap apapun saat kedua lelaki itu saling mengakui kalau di antara
mereka adalah bapak bayi itu.
“Ladak dadi
uwong! Minggato ko omahku!” (Jemawa jadi orang! Pergi dari rumahku!) bentak Paidi.
"Nek
ngono ... aku pingin tes DNA!" (Kalau begitu ... aku igi ntes DNA!).
Seketika Paidi
terdiam mendengar permintaan Tumijo..
“Tes DNA?”
tanya Paidi sedikit lunak.
“Yo! Ben
kabeh genah nek bayi iku anakku,” (Ya! Biar semua jelas kalau bayi itu adalah
anakku) balas Tumijo.
Alih-alih
marah, Paidi malah tersenyum tipis. "Yakin ta awakmu kate tes DNA?"
(Yakinkah kamu mau tes DNA?).
"La
ngopo wedi," (Kenapa takut,) balas Tumijo.
Paidi
mengangguk. “Yo, wes. Tak turuti kekarepmu.” Ya, sudah. Aku turuti
permintaanmu).
Menuk kontan
terkejut mendengar keputusan suaminya yang mendukung niat Tumijo. “Kang, tapi
....”
Paidi
mengangkat tangannya. "Wes, wes, wes! Aluwung tes DNA, Dik. Dadi, kabeh
weroh sopo asline bapake bayek iki" (Sudah, sudah, sudah! Lebih baik tes
DNA, Dik. Jadi, biar semua jelas siapa aslinya bapak bayi ini).
Wajah Tumijo
tampak puas mendengarnya.
Akan tetapi Paidi
menambahkan, "Onok sarate." (Ada syaratnya).
“Opo?" (Apa?)
tanya Tumijo.
"Kabeh
biayane awakmu seng nanggung.” (Semua biaya kamu yang menanggungnya).
Tumijo
mengernyit. "Biaya?"
"Perjalanan,
hotel, laboratorium, kabeh," balas Paidi.
"Yo,
wes. Ra masalah.” (Ya, sudah. Tidak masalah).
Menuk lantas
mendekat ke arah suaminya. "Sampean yakin, Kang?"
Paidi
mengangguk mantap. “Yo.”
****
Tumijo telah
mengurus semuanya. Ia membayar laboratorium terbaik, membeli tiket, membayar
penginapan, mengeluarkan uang jutaan rupiah tanpa ragu, bolak-balik untuk
melakukan uji tes. Semua ia lakukan semata-mata tidak terima kalau Menuk
menjadi istri Paidi karena dijodohkan oleh orang tuanya. Baginya, Menuk adalah
cinta sejati, namanya selalu lekat di hati.
Dalam
pikirannya hanya ada satu tujuan, merebut kembali Menuk dari tangan Paidi
karena ini adalah saat yang tepat! Dengan begitu, bukan hanya Menuk, tetapi
juga darah dagingnya ... bukti cintanya akan kembali!
Andai
terbukti, semua akan tercoreng, baik pihak keluarga Menuk dan keluarga Paidi.
Kini, adalah saat yang tepat, sudah dirancang oleh Tumijo untuk mengalah
sejenak lalu kembali untuk merebut Menuk dari tangan Paidi!
Jika hasil
tes menunjukkan Tumijo benar, hidup Paidi akan hancur. Tumijo yakin bayi itu
adalah darah dagingnya, sebab sebelum pernikahan terjadi, ia telah menanam
benih cinta di rahim Menuk kala itu.
****
Akhirnya
hari yang ditunggu tiba.
Paidi dan
Tumijo terlihat duduk di depan ruangan yang tak jauh dari laboratorium rumah
sakit. Menuk memilih menunggu hasilnya di rumah.
Tak lama
kemudian pintu terbuka, seorang dokter lantas mempersilakan masuk, “Bapak-bapak,
silakan masuk.”
****
Di dalam
ruangan.
“Hasil tes
sudah keluar dan ini bukan hasil rekayasa.” Dokter lantas memberikan dokumen
hasil tes kepada Tumijo, orang yang mengurus administrasi dan segala macam
keperluan yang dibutuhkan.
“Silakan,
Pak,” ucap dokter meminta Tumijo untuk melihat hasil tes.
Mengingat
kejadian di mana Menuk menyerahkan jiwanya malam itu, Tumijo sangat yakin kalau
hasilnya adalah ....
Seketika wajah
Tumijo berubah. "Ora mungkin ...."
Tumijo
bertanya ragu, “Ini beneran to, Dok?”
“Kami tidak
merekayasa hasil tes, Pak,” jawab dokter dengan terus memasang wajah ramah.
"Opo kasile?"
(Apa hasilnya?) desak Paidi yang penasaran.
Tumijo
mengangkat wajah perlahan. Matanya penuh kebingungan. “Hasile ... hasile ...
aku duk bapake.” (Hasilnya ... hasilnya ...a ku bukan bapaknya)
“Ha ha ha.
Wes tak omong to nek bayek iko iku anakku!” (Ha ha ha. Sudah kubilang kalau
bayi itu adalah anakku!) kata Paidi lantas menarik kerah baju Tumijo. “Dasar
niatmu kate ngrusak rumah tanggaku to? Diancok!” (Dasar niatmu mau merusak
rumah tanggaku, ‘kan? Sialan!)
“Sudah,
sudah. E, Pak, Pak! Mohon tidak membuat keributan di sini!” cegah dokter yang
melerai.
Tumijo
lantas memberikan hasil itu kepada Paidi.
Dengan
saksama Paidi membacanya. Hasilnya ....
“Ha! Duk anakku!”
(Ha! Bukan anakku!) pekik Paidi terkejut setelah membaca lembar berikutnya.
“Mak ...
maksutipun dos pundi, Pak Dokter?” (Mak ... maksudnya bagaimana ini, Pak Dokter?)
tanya Paidi dengan raut wajah khawatir.
"Bapak-bapak
telah melakukan tes dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bayi tersebut tidak
memiliki kecocokan biologis dengan Bapak berdua.”
Kini Paidi
yang terdiam.
“Gak
mungkin.”
Paidi kembali
membaca isi dokumen menunjukkan probabilitas hubungan ayah-anak: 0%.
Ruangan kini
senyap, terlalu sepi saat Paidi dan Tumijo menyadari kalau mereka bukan bapak
dari bayi yang dilahirkan oleh Menuk.
“Dadi, bayek
iko anake sopo?”(Jadi, bayi itu anaknya siapa?) tanya Paidi, lebih tepatnya
bertanya kepada dirinya sendiri.
Hati Tumijo
hancur setelah semua rencananya kandas, tetapi lebih hancur hati Paidi. Kini ia
tahu kebenaran sesungguhnya, kalau anak yang ia banggakan bukanlah darah
dagingnya.
****
Di ujung
jalan desa.
Seorang
perempuan menggendong bayi, terlihat berjalan tergesa-gesa. Sesekali ia menoleh
ke belakang, seolah-olah takut ada yang mengikutinya.
Piye, Nduk?
Tumijo lan bojomu gak weruh to?” (Bagaimana, Nduk? Tumijo dan suamimu tidak
tahu kan?) tanya lelaki paruh baya berkumis tebal saat perempuan itu sampai di
hadapannya. Kalau melihat gelagatnya, lelaki itu sudah menunggu kedatangan
perempuan itu.
Perempuan
yang menggendong bayi itu menggeleng, lalu bertanya, “Tapi, bojone Njenengan
pripun, Pakde?” (Namun, istrinya Anda bagaimana, Pakde?)
“Gak usah
dipikir. Iku urusanku! Wes, ayo! Dewe kudu ndang lungo ko deso iki.” (Jangan
dipikir. Itu urusanku! Sudah, ayo! Kita harus segera meninggalkan desa ini).
“Anakku.”
Setelah mengecup kepala bayi itu, lelaki baya lantas berjalan menggandeng sang perempuan.
“Dewe kudu
ndang. Ojo sampek ko kuto kebengen!) (Kita harus cepat. Jangan sampai nanti
kemalaman begitu tiba di kota).
Mereka
terlihat menyusuri lereng sungai. END
Dukung Pakde Noto di Trakteer

No comments:
Post a Comment