Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

ANAK SOPO

Menuk berdiri di depan cermin kamar pengantin. Kebaya dan jarit yang membalut tubuhnya begitu indah, tetapi ada sesuatu yang menggerogoti hatinya.


Dua minggu sebelumnya, ia melakukan kesalahan yang tak pernah ia bayangkan. Ia bertemu kembali dengan Tumijo, mantan kekasih yang pernah dicintainya selama lima tahun. Pertemuan yang seharusnya hanya menjadi obrolan perpisahan, berubah menjadi malam penuh gairah.

“Seminggu neh aku arep dirabi Kang Paidi, Mas,” (Seminggu lagi aku akan menikah dengan Kang Paidi, Mas) ucap Menuk lalu memeluk tubuh Tumijo. Keduanya masih berbaring di tempat tidur dengan jarit menutupi tubuh keduanya yang basah oleh keringat akibat dibakar gairah.

“Ora opo-opo, Dik. Paling ora aku bangga ... wes iso memiliki ati lan rogomu bengi iki.” (Tidak apa-apa, Dik. Paling tidak aku bangga ... sudah bisa memiliki hati dan tubuhmu malam ini). Tumijo lantas mengecup kening Menuk.

Cup!

 

****

Menuk kini sah menjadi istri Paidi, lelaki yang selama ini menjadi pilihan keluarganya, sekaligus orang yang benar-benar mencintainya. Namun, rasa bersalah di hati Menuk tidak pernah pergi.

Hingga suatu malam, tepat tiga bulan setelah pernikahan, Menuk tak sanggup lagi menyimpan rahasia itu. "Kang, sepurone, yo," (Kang aku minta maaf, ya) katanya sambil menangis.

Paidi melepas peci, menggantung sajadah lalu menatap istrinya dengan bingung. "Lapo meneh to, Dik?" (Memangnya ada apa, Dik?)

Menuk lantas menceritakan semuanya. Tentang pertemuan terakhir dengan Tumijo, tentang malam terlarang yang seharusnya tidak pernah terjadi. “Aku khilaf, Kang. Khilaf.”

Seketika kamar menjadi sunyi. Terdengar Paidi mengembuskan napas berat setelah mendengar pengakuan istrinya. “Awakku wes roh, Dik,” (Aku sudah tahu, Dik) kata Paidi tenang.

“Awakmu kambek Tumijo ndisek pacaran. Dewe rabi mergo wong tuo, Dik,” (Kamu dan Tumijo pernah pacaran. Kita menikah karena orang tua, Dik) imbuh Paidi.

“Sepurone, Kang,” (Maafkan aku, Kang) balas Menuk.

Paidi kembali mengembuskan napas berat. “Ah!”

“Seng uwes, yo uwes, Dik. Awakku gur pingin mbukak lembaran baru. Wes ojo dieling-iling perkoro seng kapungkur.” (Yang sudah, ya sudah, Dik. Aku hanya ingin membuka lembaran baru. Sudah jangan diingat-ingat masa lalu).

“Awakmu memang salah, tapi wes wani muni jujur.” (Kamu memang salah, tetapi sudah berani berkata jujur).

Air mata Menuk mengalir semakin deras, ia merasa mendapat kesempatan kedua. Betapa mulia hati suaminya, meski dia tahu mungkin hati suaminya hancur atas pengakuannya.

“Kang. Hu hu hu.”

Paidi memeluk lalu mengelus-elus perut istrinya.

 

****

 

6 bulan kemudian.

Lewat bantuan Mbok Kinem, dukun beranak dari desa sebelah, Menuk melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Paidi terlihat begitu bahagia.

Sore itu Paidi menggendong bayinya dengan penuh kebanggaan.

"Jeneng opo seng apik yo, Dik?" (Nama apa yang bagus ya, Dik?).

“Terserah Sampean, Kang,” jawab Menuk.

“Nek Kuswanoto?” (Kalau Kuswanoto?)

“Ojolah, Kang.” (Jangan, Kang).

“La po’o, Dik?” (Memangnya kenapa, Dik?).

“Lah pokoke ojo iku!” (Pokoknya jangan nama itu!) balas Menuk

“Apik lo iku, Dik.” (Bagus loh nama itu, Dik).

“Moh! Pokoke ojo dijenengi Kuswanoto!” (Tidak! Pokoknya jangan dinamai Kuswanoto!).

Timbul ae piye?” (Kalau namanya Timbul bagaimana?) tanya Paidi lagi.

Menuk tidak menjawab, keduanya saling tatap ... Paidi menunggu persetujuan, tapi ....

Keduanya malah tertawa.

Ah, hidup mereka terlihat sungguh bahagia.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Tok! Tok! Tok.

“Sopo, Kang?” (Siapa, Kang?).

Paidi menggeleng. “Tak bukak sek lawange,” (Akan kubuka pintunya) jawab Paidi lalu melangkah sambil mengendong bayinya.

Tok! Tok! Tok.

“Kunonuwun!” (Permisi!)

“Monggo!” (Silakan!) jawab Paidi lalu membuka pintu.

Di ambang pintu, wajah Paidi langsung mengeras begitu tahu siapa yang datang ... Tumijo.

“Ono perlu opo awakmu mrene, ha?!” (Ada perlu apa lagi kamu ke sini, ha?!) tanya Paidi dengan raut wajah tidak suka.

“Aku arep ketemu Menuk,” (Aku mau bertemu dengan Menuk) balas Tumijo.

“Kate lapo!”(Mau apa!).

“Urusanku karo Menuk urung rampung! Endi Menuk!” (Urusanku dengan Menuk belum selesai! Mana Menuk!) balas Tumijo.

Menuk yang mendengar namanya disebut-sebut oleh Tumijo lantas beranjak perlahan. Dia melangkah keluar kamar.

Akan tetapi, Tumijo sudah menerobos masuk tanpa basa-basi lagi.

“Mas Tumijo!” ucap Menuk saat melihat Tumijo kini ada di depannya.

“Yo, iki aku,” (Ya, ini aku) balas Tumijo.

“He, Tumijo! Niatmu mrene kate lapo, ha!” (He, Tumijo! Niatmu datang ke sini mau apa, ha!) kata Paidi.

“Seng mbok gendong iku anakku!” jawab Tumijo

"Maksudmu ki opo, ha! Perkoro awakmu tau ndemeni bojoku duk urusanku, tapi masalah bayek iki ... iki anakku!"(Maksudmu ini apa, ha! Perkara kamu pernah suka dengan istriku bukan urusanku, tetapi masalah bayi ini ... ini anakku!)  tegas Paidi menyakinkan kalau itu adalah darah dagingnya.

“Ora iso! Iku anakku!” (Tidak bisa! Itu anakku!) tampik Tumijo.

“Awaku ki sah bojone Menuk! Jelas iki anakku, Diancok!” (Aku ini suami sahnya Menuk! Jelas ini anakku, Sialan!) geram Paidi yang tak mau kebahagiaannya kembali diusik oleh mantan istrinya itu.

“Iku anakku! Iku darah dagingku!” (Itu anakku! Itu darah dagingku!) aku Tumijo.

“Gak iso! Iki anakku!” (Tidak bisa! Ini anakku!) bantah Paidi.

Menuk tak bisa lagi berucap apapun saat kedua lelaki itu saling mengakui kalau di antara mereka adalah bapak bayi itu.

“Ladak dadi uwong! Minggato ko omahku!” (Jemawa jadi orang! Pergi dari rumahku!) bentak Paidi.

"Nek ngono ... aku pingin tes DNA!" (Kalau begitu ... aku igi ntes DNA!).

Seketika Paidi terdiam mendengar permintaan Tumijo..

“Tes DNA?” tanya Paidi sedikit lunak.

“Yo! Ben kabeh genah nek bayi iku anakku,” (Ya! Biar semua jelas kalau bayi itu adalah anakku) balas Tumijo.

Alih-alih marah, Paidi malah tersenyum tipis. "Yakin ta awakmu kate tes DNA?" (Yakinkah kamu mau tes DNA?).

"La ngopo wedi," (Kenapa takut,) balas Tumijo.

Paidi mengangguk. “Yo, wes. Tak turuti kekarepmu.” Ya, sudah. Aku turuti permintaanmu).

Menuk kontan terkejut mendengar keputusan suaminya yang mendukung niat Tumijo. “Kang, tapi ....”

Paidi mengangkat tangannya. "Wes, wes, wes! Aluwung tes DNA, Dik. Dadi, kabeh weroh sopo asline bapake bayek iki" (Sudah, sudah, sudah! Lebih baik tes DNA, Dik. Jadi, biar semua jelas siapa aslinya bapak bayi ini).

Wajah Tumijo tampak puas mendengarnya.

Akan tetapi Paidi menambahkan, "Onok sarate." (Ada syaratnya).

“Opo?" (Apa?) tanya Tumijo.

"Kabeh biayane awakmu seng nanggung.” (Semua biaya kamu yang menanggungnya).

Tumijo mengernyit. "Biaya?"

"Perjalanan, hotel, laboratorium, kabeh," balas Paidi.

"Yo, wes. Ra masalah.” (Ya, sudah. Tidak masalah).

Menuk lantas mendekat ke arah suaminya. "Sampean yakin, Kang?"

Paidi mengangguk mantap. “Yo.”

 

****

 

Tumijo telah mengurus semuanya. Ia membayar laboratorium terbaik, membeli tiket, membayar penginapan, mengeluarkan uang jutaan rupiah tanpa ragu, bolak-balik untuk melakukan uji tes. Semua ia lakukan semata-mata tidak terima kalau Menuk menjadi istri Paidi karena dijodohkan oleh orang tuanya. Baginya, Menuk adalah cinta sejati, namanya selalu lekat di hati.

Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan, merebut kembali Menuk dari tangan Paidi karena ini adalah saat yang tepat! Dengan begitu, bukan hanya Menuk, tetapi juga darah dagingnya ... bukti cintanya akan kembali!

Andai terbukti, semua akan tercoreng, baik pihak keluarga Menuk dan keluarga Paidi. Kini, adalah saat yang tepat, sudah dirancang oleh Tumijo untuk mengalah sejenak lalu kembali untuk merebut Menuk dari tangan Paidi!

Jika hasil tes menunjukkan Tumijo benar, hidup Paidi akan hancur. Tumijo yakin bayi itu adalah darah dagingnya, sebab sebelum pernikahan terjadi, ia telah menanam benih cinta di rahim Menuk kala itu.

 

****

 

Akhirnya hari yang ditunggu tiba.

Paidi dan Tumijo terlihat duduk di depan ruangan yang tak jauh dari laboratorium rumah sakit. Menuk memilih menunggu hasilnya di rumah.

Tak lama kemudian pintu terbuka, seorang dokter lantas mempersilakan masuk, “Bapak-bapak, silakan masuk.”

 

****

Di dalam ruangan.

“Hasil tes sudah keluar dan ini bukan hasil rekayasa.” Dokter lantas memberikan dokumen hasil tes kepada Tumijo, orang yang mengurus administrasi dan segala macam keperluan yang dibutuhkan.

“Silakan, Pak,” ucap dokter meminta Tumijo untuk melihat hasil tes.

Mengingat kejadian di mana Menuk menyerahkan jiwanya malam itu, Tumijo sangat yakin kalau hasilnya adalah ....

Seketika wajah Tumijo berubah. "Ora mungkin ...."

Tumijo bertanya ragu, “Ini beneran to, Dok?”

“Kami tidak merekayasa hasil tes, Pak,” jawab dokter dengan terus memasang wajah ramah.

"Opo kasile?" (Apa hasilnya?) desak Paidi yang penasaran.

Tumijo mengangkat wajah perlahan. Matanya penuh kebingungan. “Hasile ... hasile ... aku duk bapake.” (Hasilnya ... hasilnya ...a ku bukan bapaknya)

“Ha ha ha. Wes tak omong to nek bayek iko iku anakku!” (Ha ha ha. Sudah kubilang kalau bayi itu adalah anakku!) kata Paidi lantas menarik kerah baju Tumijo. “Dasar niatmu kate ngrusak rumah tanggaku to? Diancok!” (Dasar niatmu mau merusak rumah tanggaku, ‘kan? Sialan!)

“Sudah, sudah. E, Pak, Pak! Mohon tidak membuat keributan di sini!” cegah dokter yang melerai.

Tumijo lantas memberikan hasil itu kepada Paidi.

Dengan saksama Paidi membacanya. Hasilnya ....

“Ha! Duk anakku!” (Ha! Bukan anakku!) pekik Paidi terkejut setelah membaca lembar berikutnya.

“Mak ... maksutipun dos pundi, Pak Dokter?” (Mak ... maksudnya bagaimana ini, Pak Dokter?) tanya Paidi dengan raut wajah khawatir.

"Bapak-bapak telah melakukan tes dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bayi tersebut tidak memiliki kecocokan biologis dengan Bapak berdua.”

Kini Paidi yang terdiam.

“Gak mungkin.”

Paidi kembali membaca isi dokumen menunjukkan probabilitas hubungan ayah-anak: 0%.

Ruangan kini senyap, terlalu sepi saat Paidi dan Tumijo menyadari kalau mereka bukan bapak dari bayi yang dilahirkan oleh Menuk.

“Dadi, bayek iko anake sopo?”(Jadi, bayi itu anaknya siapa?) tanya Paidi, lebih tepatnya bertanya kepada dirinya sendiri.

Hati Tumijo hancur setelah semua rencananya kandas, tetapi lebih hancur hati Paidi. Kini ia tahu kebenaran sesungguhnya, kalau anak yang ia banggakan bukanlah darah dagingnya.

 

****

 

Di ujung jalan desa.

Seorang perempuan menggendong bayi, terlihat berjalan tergesa-gesa. Sesekali ia menoleh ke belakang, seolah-olah takut ada yang mengikutinya.

Piye, Nduk? Tumijo lan bojomu gak weruh to?” (Bagaimana, Nduk? Tumijo dan suamimu tidak tahu kan?) tanya lelaki paruh baya berkumis tebal saat perempuan itu sampai di hadapannya. Kalau melihat gelagatnya, lelaki itu sudah menunggu kedatangan perempuan itu.

Perempuan yang menggendong bayi itu menggeleng, lalu bertanya, “Tapi, bojone Njenengan pripun, Pakde?” (Namun, istrinya Anda bagaimana, Pakde?)

“Gak usah dipikir. Iku urusanku! Wes, ayo! Dewe kudu ndang lungo ko deso iki.” (Jangan dipikir. Itu urusanku! Sudah, ayo! Kita harus segera meninggalkan desa ini).

“Anakku.” Setelah mengecup kepala bayi itu, lelaki  baya lantas berjalan menggandeng sang perempuan.

“Dewe kudu ndang. Ojo sampek ko kuto kebengen!) (Kita harus cepat. Jangan sampai nanti kemalaman begitu tiba di kota).

Mereka terlihat menyusuri lereng sungai. END

 

 

 

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search